Tauhid Rubbubiyah

Tauhid Rubbubiyah berarti mentauhidkan, meyakini segala apa yang dilakukan Allah, seperti mencipta, memberi rezki, menghidupkan, mematikan, dan mengimani bahwa Allah adalah Raja dari segala raja, Penguasa, dan Rab yang mengatur segalanya.

Tauhid Rubbubiyah bukan merupakan keseluruhan ajaran tauhid, melainkan hanya sebagian. Seseorang yang mengakui rubbubiyah Allah belum tentu juga beriman kepada uluhiyyah Allah dan asma wa shifat. Hal ini sebagaimana yang dialami oleh sebagian besar Musrikin arab yang mengakui rubbubiyah Allah, namun mengingkari syariatnya dan menolak perintah untuk beribadah kepada Allah semata.

Surat Al-A’raaf ayat 54.

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy[548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Surat Al-Faathir ayat 13.

Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.

Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.

Surat Az-Zumar 62.

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.

Surat Huud ayat 6.

Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Tauhid Rubbubiyah ini diakui oleh semua orang. Tidak ada umat manapun yang menyangkalnya, bahkan Iblis terlaknat pun mengakui bahwa Allah lah segala-galanya. Tauhid Rubbubiyah tidaklah menjadi faktor utama dalam hal seseorang dikatakan beriman, taat dan patuh kepada Allah, karena tauhid Rubbubiyah ini hanya bentuk pengakuan semata bahwa Allah segala-galanya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “ seandainya keimanan kepada tauhid Rubbubiyah ini saja dapat menyelamatkan, tentunya orang musyrik telah diselamatkan. Akan tetapi urusan yang amat penting dan menjadi penentu adalah keimanan kepada tauhid Uluhiyyah yang merupakan pembeda antara orang-orang musyrikin dan orang-orang yang mentauhidkan Allah Ta’ala.

No comments yet.

Leave a Comment